Persaingan, Dendam dan Asmara dalam Kisah ‘Nyonya Nomor Satu’

balihoposterjpg

Program kebudayaan Indonesia Kita garapan trio kreatif Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto dan Agus Noor kembali tampil dengan mementaskan lakon yang berjudul “Nyonya Nomor Satu” pada tanggal 27-28 Nopember 2015 pukul 20.00 WIB di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Pentas terakhir Indonesia Kita di tahun 2015 tersebut diiringi dengan musik khas Sinten Remen dan menghadirkan kolaborasi apik dari para seniman Indonesia lintas generasi seperti Titiek Puspa, Koes Hendratmo, Happy Salma, Tarsan, Cak Lontong, Susilo Nugroho, Yu Ningsih, Trio GAM, Akbar, hingga Kelompok vokal anak Duta Cinta Indonesia.

Kisah Nyonya Nomor Satu berlatang belakang tentang sekelompok tonil atau stamboel komedi bernama Bintang Timoer yang hampir bangkrut. Kebangkrutan tersebut menimbulkan kegelisahan yang luar biasa dikalangan para pemain maupun bintang-bintang lama yang bernaung dibawah stamboel Bintang Timoer. Mereka sangat berharap stamboel Bintang Timoer dapat tetap ada dan mereka dapat tetap eksis dalam dunia hiburan panggung serta tidak menjadi monumen kenangan semata yang lambat laun terlupakan.

Ditengah situasi yang tidak menentu, hadir seorang wanita kaya raya yang mau menolong untuk menghidupkan kembali kelompok stamboel Bintang Timoer. Ironisnya, wanita yang selalu ingin dipanggil Nyonya tersebut adalah mantan pemain stamboel Bintang Timoer yang dahulu kurang dianggap dan selalu mendapatkan peran-peran kecil saat pementasan. Kini sang Nyonya telah kaya raya, dia datang penuh dendam akibat kalah dalam persaingan dahulu. Dia pun datang penuh dendam akibat asmara yang bertepuk sebelah tangan dengan sesama pemain stamboel Bintang Timoer. Dengan kekayaan yang dimilikinya saat ini, dia menganggap bahwa dirinya adalah Nyonya Nomor Satu yang harus selalu menjadi yang utama dan menjadi primadona. Sang Nyonya pun merasa bisa mengatur segala hal terkait stamboel dan mengambil keputusan cerita maupun lakon apa yang akan dipentaskan.

Sementara itu, ada tokoh wanita lain yang sesungguhnya lebih disukai dan diharapkan dapat menjadi bintang di kelompok tersebut. Persaingan diantara keduanya pun terjadi, tidak hanya persaingan untuk dapat menjadi peran utama, tetapi meluas menjadi persaingan dalam kisah cinta yang melibatkan unsur-unsur klenik serta intrik-intrik antar pemain.

nyonya.nomor.satu.indonesia.kita.1

Penampilan apik Titiek Puspa, Koes Hendratmo dan grup vokal anak Duta Cinta Indonesia

nyonya.nomor.satu.indonesia.kita.3

Trio GAM, Cak Lontong dan Akbar sukses mengocok perut penonton dengan lawakan-lawakan segar mereka

Kisah Nyonya Nomor Satu dipentaskan secara baik oleh para tokoh yang bermain, gelak tawa penonton membahana saat lawakan-lawakan segar ditampilkan melalui gerak tubuh dan dialog antar pemain. Selain itu, penonton pun diajak bernostalgia dengan penampilan luar biasa dari Titiek Puspa dan Koes Hendratmo yang menyanyikan lagu-lagu lawas andalan.

nyonya.nomor.satu.indonesia.kita.5

Penampilan Titiek Puspa, Happy Salma dan Yu Ningsih pada Indonesia Kita

nyonya.nomor.satu.indonesia.kita.6

Lakon Nyonya Nomor Satu pada Indonesia Kita

nyonya.nomor.satu.indonesia.kita.4

Tarsan, Soesilo dan Happy Salma beradu akting panggung

Happy Salma yang turut berperan dalam pementasan Nyonya Nomor Satu mengungkapkan rasa senangnya bisa menjadi bagian dari pementasan ini, diakui Happy bahwa bagi dirinya berakting secara langsung diatas panggung adalah sesuatu yang sangat menantang. “Seni pertunjukan khususnya teater, selalu memberikan tantangan tersendiri bagi saya karena tidak mudah untuk berakting secara langsung di atas panggung. Terlebih lagi trio kreatif ini (Butet, Djaduk, Agus) selalu konsisten mengangkat isi-isu aktual di masyarakat dan menampilkan dalam seni pertunjukan yang memukau. Karena itu saya selalu antusias untuk ikut pementasan yang digelar oleh Indonesia Kita” Ujar Happy Salma.

Nyonya Nomor Satu adalah pementasan ke-18 pertunjukan kebudayaan Indonesia Kita. Dalam kurun waktu 5 tahun, Indonesia Kita telah berhasil mementaskan 17 pementasan dengan tema-tema sosial kemasyarakatan yang berbeda-beda. Pementasan-pementasan tersebut, antara lain Laskar Dagelan, Beta Maluku, Kartolo Mbalelo, Mak Jogi, Kutukan Kudungga, Kadal Nguntal Negoro, Jogja Broadway “Apel I’m in love”, Kabayan Jadi Presiden, Maling Kondang, Nyonya-nyonya Istana, Orde Omdo, Matinya Sang Maestro, Roman Made In Bali, Semar Mendem, Tabib Dari Timur, Sinden Republik dan Datuk Bagindo Presiden.

Melalui siaran pers yang diterima, penggagas ide Indonesia Kita, Butet Kartaredjasa, mengatakan bahwa pementasan Indonesia Kita adalah sebuah proses dialog yang diwujudkan dalam bentuk kolaborasi para seniman untuk memahami kembali Indonesia melalui jalan kesenian dan kebudayaan. “Melalui pentas-pentas Indonesia Kita, kami mencoba memahami kembali Indonesia sebagai sebuah proses panjang berbangsa dan bernegara melalui jalan kesenian serta kebudayaan. Sebagai sebuah proses dialog, kami selalu mengajak para seniman untuk berkolaborasi.” Kata Butet.

Sementara itu, Renitasari Adrian, dari Djarum Foundation yang merupakan pendukung utama Indonesia Kita memandang bahwa setiap pementasan yang ditampilkan Indonesia Kita bukanlah sekedar hiburan semata. Lebih dari itu, Indonesia Kita adalah sebuah program seni budaya yang dapat menjadi sarana pendidikan bagi masyarakat dengan mengangkat persoalan-persoalan sosial secara aktual. “Lakon yang dipentaskan oleh Indoensia Kita selalu memberikan sajian yang segar dan menghibur. Setiap pementasannya selalu mampu mengeksplorasi ide kreatif dan menampilkannya dalam karya seni yang tidak hanya menghibur, tetapi mengedukasi dengan mengangkat persoalan aktual yang sedang terjadi.” Ujar Renitasari.

Pementasan Indonesia Kita seolah menjadi oase bagi dunia teater di tanah air, khususnya di kota dengan mayoritas penduduk yang merindukan alternatif tontonan berkualitas seperti Jakarta. Antusias masyarakat akan pertunjukan seni kebudayaan seperti Indonesia Kita dapat dilihat dari habisnya tiket pertunjukan yang dijual jauh hari sebelum hari pertunjukan dan penuhnya bangku penonton pada saat hari pertunjukan. Fakta-fakta ini dapat menjadi harapan bagi para seniman teater untuk tetap semangat dalam berkarya dan menampilkan karya-karya terbaik yang tidak saja menghibur tetapi juga dapat memberikan pendidikan dan meningkatkan rasa nasionalisme pada masyarakat.

Seperti yang selalu diucapkan Butet Kartaredjasa saat membuka dan menutup pentas, “jangan kapok menjadi Indonesia!” (budakkulon)

nyonya.nomor.satu.indonesia.kita.8

Suasana Graha Bakti Budaya pada pementasan Indonesia Kita

Iklan

2 thoughts on “Persaingan, Dendam dan Asmara dalam Kisah ‘Nyonya Nomor Satu’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s