Dare To Dream

Gambar

Sumber foto : http://abstract.desktopnexus.com/wallpaper/1364810/


Secangkir kopi melengkapi bahagia saat tawa renyah sahabat terdengar diantara celotehannya, aku selalu suka saat-saat bersama mereka, terutama saat kami melewati senja di hari jumat pada sebuah warung kopi di sudut kota Jakarta. Aneka topik kerap kali menjadi bahan perbincangan, mulai dari tingkah polah konyol orang-orang di layar kaca hingga bahasan tentang kegiatan travelling yang menjadi kesukaan kami bersama. Semua dibahas dengan ringan, tanpa beban.

Namun ada yang berbeda pada suatu senja, sebuah ide gila terlontar begitu saja entah dari mana datangnya. Ide itulah yang terus berada dalam anganku hingga saat ini, ide yang pada akhirnya menjadi salah satu mimpi terbesarku, ide yang membuatku bersemangat untuk mewujudkannya, mewujudkan angan, mewujudkan mimpi. Ide tersebut berawal dari keenganan kami melepas segala kebersamaan dalam senja, membuat kami ingin terus bersama dalam ceria dan cerita, walau dalam perjalanan hidup nanti kami akan terpisah oleh jarak dan waktu, namun kelak kami ingin bertemu kembali, dalam sebuah senja, pada sebuah senja usia.

Ide yang pada akhirnya menjadi sebuah mimpi itu sangatlah sederhana, kami ingin membangun sebuah tempat berkumpul di hari tua, tempat kami berbagi cerita tentang kehidupan, berbagi cerita tentang masa muda yang gemilang, tentang kecantikan istri atau ketampanan suami kami, tentang kebanggaan pada anak-anak kami, dan berbagi cerita tentang betapa lucunya cucu-cucu kami. Kami ingin membangun sebuah tempat yang terletak tidak begitu jauh dari pusat kota, Rumah besar dengan halaman luas dan rindang, dimana terdapat bangku taman yang nyaman untuk kami bermain catur atau membaca buku. Di halaman terdapat kolam ikan yang jernih, tempat kami berkumpul memberi makan ikan, atau mungkin kami tempatkan sebuah kandang terbuka yang berisi puluhan pasang burung merpati disuatu sudut halaman rumah. Kami juga inginkan ada sebuah sungai kecil yang mengalir di belakang rumah, tempat dimana kami mengistirahatkan pikiran dan pendengaran dari bising dunia. Dan tidak lupa kami pun inginkan sebuah televisi dengan layar yang cukup lebar untuk kami menyaksikan tim nasional sepakbola Indonesia berlaga di piala dunia.

Ide bersama yang pada akhirnya menjadi mimpi pribadiku ini semakin hari semakin menguat, salah satu sebabnya adalah ketakutanku untuk menghabiskan hari tua di kota yang kini aku tinggali, aku yakin bahwa tidak ada satu kota pun khususnya di Indonesia yang ramah terhadap orang lanjut usia (lansia), laju mobil yang kencang tidak bisa menunggu lambatnya lansia menyeberang, demikian pula dengan angkutan umum yang selalu terburu-buru karena mengejar setoran, mereka tidak bisa menunggu tubuh lansia duduk sempurna di kursi penumpang. Jembatan penyeberangan di buat sangat tinggi, kakiku yang melemah mungkin tidak akan sanggup menapaki anak-anak tangganya. Deru mesin kendaraan dan nyalak klakson akan terdengar bagai teriakan kakak kelas saat ospek, lengking dan memilukan. Demikian pula dengan udara kotor yang terpaksa harus dihirup untuk memenuhi ruang-ruang di paru. Dan saat tua nanti pastinya aku tidak akan sanggup melawan teror yang dilakukan oleh para pengendara motor saat sedang berjalan di trotoar. Kelak Dunia akan melaju dengan sangat cepat, namun kita manusia ditakdirkan untuk melambat.

Aku ingin menikmati hari tua dengan ketenangan, tanpa perlu membuat anak cucuku melambatkan laju mereka. Rumah yang aku impikan bukanlah sebuah panti jompo, rumah itu adalah rumah kebahagiaan, dimana tidak pernah ada perasaan terbuang disana, aku yang menempatkan diri di rumah itu, bukan mereka orang-orang terkasih. Justru keberadaanku di rumah tersebut berlandaskan kasih sayang. Aku akan biarkan anak cucuku menjalani kehidupan mereka sendiri tanpa perlu khawatir terhadap keadaanku yang mereka tinggal seorang diri di rumah. Aku ingin menciptakan masa tua ku sendiri. Itulah mimpiku.

Aku sadar betapa tidak mudahnya mewujudkan mimpi itu, pasti banyak kendala yang akan dihadapi, salah satunya adalah pandangan masyarakat terhadap keluarga yang menitipkan orang tua mereka di rumah yang selintas mirip panti jompo ini. Untuk itulah jika kelak mimpi ini terwujud aku tidak akan membuat tempat itu seperti panti jompo, tapi aku akan membuat tempat itu bagikan rumah singgah yang didalamnya penuh kebahagiaan, itu sebabnya mengapa rumah itu aku namakan Rumah Bahagia, penghuninya bisa datang dan pergi sesuka hati, keluarga pun bisa menginap dalam waktu yang dibatasi, kebutuhan para penghuni akan selalu terpenuhi. Yang pasti aku tidak akan pernah mengijinkan ada air mata kesedihan terjatuh di lantai rumah bahagia, takkan pernah ada waktu bagi para penghuni untuk bersedih.

Entah kapan mimpi ini bisa terwujud, namun jika Tuhan restui aku ingin berada di Rumah Bahagia bersama istriku tercinta saat usiaku menginjak 65 tahun. Semoga jika saatnya nanti, masing-masing kita belum mati.

“I DECLARE, I WILL ACCOMPLISH MY DREAMS”

Jakarta, 13 Mei 2014

Budakkulon



Iklan

5 thoughts on “Dare To Dream

  1. Ping balik: Giveaway : Dare To Dream! | windamaki's blog

    • Amin, sebetulnya lebih tepat lagi aku sedang berusaha untuk menciptakan hari tua yang menyenangkan. Semoga hari tua kita semua menyenangkan. Terima kasih sudah mampir, Hanifa.

      Salam,
      Budakkulom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s