Warga Mudah Lupa Pada Setiap Derita

Suatu siang yang terik di hari Minggu, saat aku sedang bersantai menikmati setiap baris kalimat dari buku yang aku baca, simbok pulang dengan mimik wajah yang menyiratkan kemarahan. usut punya usut ternyata dia baru saja menghadiri kegiatan di sekretariat Rukun Tangga (RT) 123 yang merupakan RT di lingkungan rumah kos kami berada. Dan agenda rapat RT hari itu adalah memilih seseorang yang akan mewakili warga RT 123 untuk bertarung dalam ajang pemilihan ketua Rukun Warga (RW) 456.

Rupanya, sudah menjadi kebiasaan di RT 123 untuk secara demokratis memilih orang yang akan mereka calonkan untuk menjadi ketua RW. Menurutku ini adalah sebuah kebiasaan yang baik. Namun apa gerangan yang membuat Simbok menjadi marah?? Apakah ada anak kos yang terlambat membayar uang kos?? Tanpa diminta Simbok menceritakan apa yang menjadi kekesalan hatinya saat itu, aku `terpaksa` mendengarkan curahan hatinya, ya karena memang hanya ada aku saat itu.

Simbok bercerita bahwa dia tidak puas dengan hasil pemilihan hari itu, menurutnya orang yang terpilih sebagai perwakilan dari RT 123 bukanlah orang terbaik dari para calon yang ada. Dikisahkan bahwa proses awal dari pemilihan calon ketua RW itu adalah pak RT mendata semua warganya yang masuk kriteria, kriterianya macam-macam, mulai dari usia, lama menjadi warga, latar belakang pendidikan, hingga kecakapan dalam berbicara. Maka terpilihlah sekian puluh nama yang sesuai dengan kriteria, dan dari puluhan nama tersebut dipersilahkan jika memang ada yang tidak mau dicalonkan untuk mengundurkan diri. Selain itu, bagi warga yang namanya tertera namun dia tidak hadir pada saat itu, maka secara otomatis dia gugur dari pencalonan. Simbok tidak mencalonkan diri maupun dicalonkan, karena dari sekian banyak kriteria, tidak ada satu pun yang sesuai dengan dirinya.

Pemilihan dilakukan dalam dua putaran, putaran pertama adalah mencari lima besar dari puluhan nama calon tersebut, selanjutnya setelah terpilih lima calon maka akan diadakan pemilihan untuk mencari pemenangnya. Namun apabila dalam putaran pertama ada yang mendapatkan suara sebanyak 50% + 1, maka dia dinyatakan sebagai pemenang. Yang jadi masalah adalah, dari lima orang calon tersebut ada seorang warga yang tampaknya dijagokan untuk bisa memenangi pemilihan tersebut, dan Simbok memiliki dendam yang cukup dalam kepada warga ini. Sebut saja namanya Bapak Ato. Simbok marah karena warga begitu mudah melupakan betapa pak Ato bukanlah orang yang bisa bertanggung jawab terhadap amanah warga yang dipegangnya.

Segelas air menciptakan jeda celoteh Simbok, setelah berhasil mengusir dahaga Simbok melanjutkan ceritanya, Simbok menuturkan bahwa pak Ato beberapa bulan yang lalu baru saja selesai mengemban amanah sebagai ketua arisan warga. Arisan yang dimaksud cukup unik, warga mengumpulkan uang setiap bulan dalam jangka waktu satu tahun, dan di waktu yang telah ditentukan warga dapat menarik uang tersebut sesuai dengan jumlah yang disimpan. Arisan tersebut telah berlangsung lama, semuanya berjalan baik sesuai tujuan awal mengadakan arisan warga. Namun sejak diketuai pak Ato, pembayaran arisan tersebut menjadi tersendat dengan berbagai alasan. Puncaknya adalah pada saat pemilihan ketua arisan yang baru dimana pak Ato tidak terpilih lagi, pak Ato tidak bisa mempertanggung jawabkan pembayaran uang arisan kepada warga.

Warga marah saat itu, berbagai caci maki dan fitnah mudah saja terlontar dari mulut warga, namun sayangnya segala caci maki dan fitnah tersebut hanya terdengar di belakang pak Ato, tidak ada satu pun warga yang berani bertanya tentang pertanggung jawaban uang arisan tersebut kepada pak Ato. Warga hanya memaksa ketua arisan yang baru untuk menekan pak Ato agar mempertanggung jawabkan uang arisan warga. Pak Ato sendiri memang sosok muda yang memiliki kharisma di mata warga, dia memiliki banyak gelar akademis, rambut yang selalu tersisir rapi, kumis dan janggut yang tertata, tutur bahasa yang membuai, hingga rajinnya pak Ato dalam beribadah. Hal-hal tersebutlah yang membuat warga segan padanya.

Dan dengan segala amunisi yang dimilikinya tersebut, pak Ato berhasil mempesona warga sehingga beliau mampu memenangkan pemilihan wakil warga RT 123 untuk menjadi calon ketua RW 456.

Simbok marah. Marah karena lelah.

Simbok jengah. Merasa telah kalah.

Amnesia yang parah. Membuat Simbok pasrah.

Warga mudah lupa, pada setiap derita

Jakarta, 12 Maret 2014

Budakkulon

Iklan

1 thought on “Warga Mudah Lupa Pada Setiap Derita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s