Simbok : wekwekwek

“wekwekwekwekwekwekwek….”

Nada itu yang aku dengar dari dalam kamar saat simbok marah-marah karena ada anak kos yang terlambat bayar uang sewa kamar. Kalau dalam situasi seperti itu, sebaiknya kita menjauhi simbok, soalnya kita bisa mati kebingungan mengartikan apa yang simbok katakan.

Menumpang hidup di Jakarta memang keras, aku sedikit merasa beruntung bisa menemukan tumpangan hidup (kamar indekost) dengan harga yang relatif murah dan jarak yang sangat dekat dengan tempatku bekerja. Sudah lebih dari lima tahun aku menyewa sebuah kamar di rumah yang besar ini, rumah yang entah sejak kapan dialihfungsikan oleh pemiliknya dari rumah tempat tinggal menjadi rumah kos-kosan. Sang pemilik sendiri lebih memilih tinggal di kawasan elit di bilangan Kelapa Gading dan mempercayakan pengelolaan rumah kos kepada simbok. Alhasil, bukan saja ‘berkuasa’, tetapi simbok menjelma menjadi wanita paling cantik di rumah kos yang memang khusus diperuntukkan untuk pria tersebut.

Simbok adalah seorang wanita lanjut usia yang masih keras bekerja di sisa-sisa hidupnya. Pekerjaan utamanya adalah mengelola rumah kos ini untuk sang pemilik, mulai dari kebersihan, memasak air minum, cuci seterika, hingga menarik uang kos dan meneror setiap mereka yang terlambat bayar uang kos, seperti kejadian pagi ini. Simbok (dapat dikatakan) sangat berdedikasi dalam pekerjaannya, seberapa pun baik dan royalnya anak kos kepada dia secara pribadi, kalo sudah urusan bayar kos maka dia menjelma menjadi dementor yang siap menindas setiap tahanan di Azkaban. Tanpa ampun.

Dalam menjalani pekerjaannya simbok memiliki tagline yang sangat ditakuti anak kos, yaitu “Jakarta Luas”. Mungkin Gubernur Jakarta perlu sesekali meminjam tagline ini dari simbok. Bagi yang memahami, Jakarta Luas adalah sebuah usiran, secara kasar dapat diartikan bahwa jika tidak suka dengan aturan yang berlaku di kosan, silahkan untuk pergi dan mencari tempat lain. Sadis.

Untuk urusan bayar uang sewa kamar kos, aku pun pernah mengalami masa-masa sulit, terutama di zaman kuliah dulu. Dimasa-masa itulah aku akan sangat jarang terlihat di kosan, karena aku akan pulang lebih larut dan berangkat lebih pagi, menghindar untuk bertemu dengan simbok. Dimasa-masa seperti itu pula aku akan sering berjalan mengendap-endap dan yang lebih parah adalah aku akan sering tidak mandi, semua itu demi terhindar bertemu dengan simbok. Bahkan dulu pernah hampir saja aku dijatuhi vonis “Jakarta Luas” oleh simbok, karena hampir tiga bulan aku tidak bayar uang sewa. Saat itu aku terpaksa memecahkan celengan yang sangat aku sayangi. Dentingan logam pun terdengar nyaring pagi itu. Satu persatu aku hitung hingga sesuai dengan jumlah uang sewa kamar yang harus dibayarkan. Lalu aku masukkan semua ke dalam kantong plastik warna hitam dan kutinggal mandi.

Pagi itu, setelah semua siap aku pun berangkat kuliah, dengan rasa takut aku keluar kamar dan bertemu simbok yang sedang mencuci. Melihat ragaku simbok langsung berhenti mencuci yang menadahkan tangan kanannya, sesegera mungkin aku memberikan sekantong uang logam itu kepadanya dan langsung pergi. Beberapa detik kemudian aku mendengar nada yang sama seperti yang aku dengar pagi ini.

“wekwekwekwekwekwekwek….”

Jakarta, 12 Februari 2014

Budakkulon

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s